Kriminalnusantara.com.| Mamasa, Sulawesi Barat – Kasus ini ternyata menyembunyikan isu yang jauh lebih besar. Pimpinan Redaksi Kriminalnusantara.com menyatakan akan menelusuri secara mendalam dugaan ketidakberesan dalam proyek pembangunan TK Harapan Jaya / PAUD Desa Tapalinna, yang anggarannya mencapai miliaran rupiah. Di tengah pertanyaan publik soal dugaan nepotisme dalam pengelolaan dana tersebut, yang terjadi bukan penjelasan melainkan akses informasi justru ditutup. Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah berinisial H diketahui telah memblokir awak media yang berusaha menanyakan kejelasan penggunaan anggaran tersebut.
Pimpinan Redaksi: Kami Akan Menelusuri Anggaran Miliaran yang Dipertanyakan
Pimpinan Redaksi Kriminalnusantara.com menyampaikan sikap resmi terkait latar belakang seluruh peristiwa ini:
“Kami tidak berhenti pada kasus pemerasan atau penyuapan yang sedang terjadi. Yang jauh lebih penting bagi publik adalah: dari mana sumber dana miliaran rupiah untuk pembangunan TK Harapan Jaya? Siapa pelaksana pekerjaannya? Apakah ada keterkaitan keluarga atau kedekatan personal antara pelaksana dengan pihak pengelola sekolah? Dugaan nepotisme yang disampaikan masyarakat adalah pertanyaan sah yang harus dijawab secara terbuka,” tegas Pimpinan Redaksi.
Alih-alih Dijelaskan, Awak Media Justru Diblokir
Alih-alih memberikan akses dokumen pertanggungjawaban, respons yang diterima justru mengejutkan. Hingga berita ini diturunkan:
Kepala Sekolah berinisial H diketahui telah memblokir nomor WhatsApp awak media yang berusaha mengonfirmasi data anggaran
Pertanyaan terkait dokumen bantuan revitalisasi sekolah tidak dijawab
Awak media yang datang langsung juga belum diizinkan melihat dokumen pertanggungjawaban keuangan
“Jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa pertanyaan ditutup dengan pemblokiran? Ini bukan cara lembaga publik yang menerima dana negara berinteraksi dengan masyarakat dan media. Semakin ditutup, semakin kuat dugaan publik bahwa ada yang sedang dilindungi,” tambah Pimpinan Redaksi.
Percakapan Riki & Alek Kastel Dipertanyakan: “Sudah Laporin Aja Mi” Bagian dari Skenario?
Saat Riki mengirimkan rilisan berita yang belum diverifikasi kebenarannya kepada Pak Alek Kastel, respons yang diterima begitu singkat dan tegas:
Alek Kastel: “Oh sudah laporin aja mi.”
Riki: “Kalo saya sebagai jurnalis mengangkat berita saja bg, laporan tergantung dari korban.”
Publik kini mempertanyakan:
Mengapa langsung disuruh “laporin” tanpa menanyakan isi dan kebenaran rilis tersebut terlebih dahulu?
Apakah kalimat itu menunjukkan adanya kesepakatan atau instruksi sebelumnya?
Apakah rilis yang belum diverifikasi itu sengaja dikirimkan sebagai “bukti” pemicu laporan, bukan sebagai proses jurnalistik?
“Jika belum ada pembicaraan sebelumnya, logikanya seseorang akan bertanya ‘apa isinya?’ atau ‘benarkah itu?’ bukan langsung disuruh melaporkan. Pola inilah yang memunculkan dugaan penjebakan: seolah-olah semuanya sudah disiapkan, tinggal menunggu waktunya,” ujar pengamat hukum masyarakat Mamasa.
Ada Apa di Balik Dugaan Penjebakan Ini? Sekolah Seakan Terlindungi
Rangkaian peristiwa ini membentuk pola yang semakin menguatkan kecurigaan publik:
Pertama, LSM datang mengawasi dana revitalisasi sekolah diminta uang agar diam
Kedua, ditolak disodorkan uang lain yang kemudian ditolak juga
Ketiga, uang ditolak justru muncul rilis berita miring yang disebarkan sebelum diverifikasi
Keempat, saat ditanya dokumen anggaran awak media diblokir, tidak ada penjelasan terbuka
“Publik melihat pola yang mengkhawatirkan: setiap kali ada yang mengawasi sekolah ini, akses informasi ditutup dan tuduhan berbalik ke arah pengawas. Sekolah itu sendiri seakan berada di luar jangkauan pertanyaan. Ada apa yang sebenarnya dilindungi di sana?” tegas Abdul Rahman.
Jika Ini Dugaan Penjebakan, Maka Ini Lebih Serius dari Sekadar Suap
Jika terbukti ada perencanaan menjebak pihak yang mengawasi, maka ini bukan sekadar masalah penyuapan atau pemerasan. Ini berarti:
Pengawasan masyarakat sengaja dibungkam dengan menciptakan citra buruk terhadap pengawas
Rilis berita digunakan sebagai alat strategis, bukan jurnalisme disebarkan lebih dulu sebelum ada yang bisa membantahnya
Arah isu sengaja dialihkan dari masalah pengelolaan dana miliaran rupiah menjadi masalah pribadi antarindividu
Pihak yang menolak suap justru diposisikan sebagai tersangka sebelum proses hukum dimulai
Abdul Rahman: Saya Laporkan ke Polres Mamasa, Usut Juga Dugaan Penjebakan & Anggaran Sekolah
Abdul Rahman menegaskan laporannya ke Polres Mamasa tidak hanya soal penyuapan, tetapi juga dugaan penjebakan serta transparansi anggaran sekolah:
“Saya tidak mencari masalah, tapi saya juga tidak akan diam dijebak. Di dalam laporan resmi nanti, saya minta aparat meneliti dua hal sekaligus: dugaan penjebakan ini, dan juga kejelasan anggaran miliaran rupiah di sekolah tersebut. Publik berhak tahu uang rakyat dipakai untuk apa. Memblokir media bukan jawaban,” tegas Abdul Rahman.
Catatan Redaksi
Pertanyaan terkait anggaran miliaran rupiah TK Harapan Jaya dan dugaan nepotisme di atas didasarkan pada informasi yang diterima dari masyarakat. Asas praduga tak bersalah berlaku sepenuhnya. Kepala Sekolah berinisial H dan pihak terkait berhak memberikan penjelasan terbuka mengenai dokumen pertanggungjawaban anggaran tersebut.
Pemblokiran terhadap awak media tidak menghentikan hak publik atas informasi. Redaksi akan terus menelusuri dokumen dan data lapangan, dan akan memperbarui pemberitaan ini jika pihak sekolah memberikan penjelasan resmi. Ruang tanggapan tetap terbuka seluas-luasnya.
(Tim Redaksi Kriminalnusantara.com 16 Oktober 2026)
✅ Siap tayang! 😊













